Puluhan Mahasiswa Papua Di Tahan Metro Jaya Jakarta Pusat

Jumat, 18 Desember 2015

Mahasiswa Papua diTawan di  Metro Jaya Jakarta Pusat
SBT,Jakarta:_Hari ini 19 Desember 2015 dikabarkan puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua di tahan dan di bawah ke Metro Jaya Jakarta Pusat.

Massa Aksi yang dipimpin oleh Mahasiswa itu di hadang oleh militer Indonesia di bawah pimpinan Tito Karnavian Kapolda Metro Jaya Jakarta, Tampa alasan yang jelas Massa aksi ditahan dan di bawah ke Metro Jaya Jakarta.

Tampa Alasan yang jelas Kami di Hadang, pada saat kami di hadang salah satu Komandan Polisi Mengukapkan; “Jangan ada demo untuk memisahkan Negara dari Negara”, namun dalam Facebook Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Menanyakan Kepada kepolisian dan Negara indonesia tentang UUD Negara Indonesia Alinea Pertama, dimana telah dikutip Bahwa “Kemerdekaan ialah Hak Segala Bangsa, oleh sebab itu Penjajahan diatas dunia Harus di Hapuskan” Maka Rakyat Papua Punya Hak Untuk Merdeka Keluar dari Negara Indonesia.

Lanjutnya, dalam Facebook AMP Mengutip, Rakyat Papua Mempunyai Hak untuk Merdeka, Maka Segara Berikan “Hak Menentukan Nasip Sendiri Solusi Demokratis Bagi Rakyat Papua” “Referendum Now For West Papua” Segara lakukan Referendum Di west Papua.

Kronologis Aksi damai AMP Jakarta, 23 orang di tangkap

Rute aksi depan monas, pintu selatan menuju Instana Presiden." Berkumpul di titik kumpul 08;45 wj. Kami lakukan persiapan perkap dalam kepungan polisi dan brimob.


Kami mulai long mars pukul 09;57 wj, namun kami di hadang di tempat. Tanpa dasar alasan yng jelas, "sesuai UUD 1945 tentng hak penyampaian di muka." Ucap komandan polisi saat itu.

Lanjutnya" jangan ada demo untuk memisahkan negara dari negara." Ucap bapa yng mengomandoi pasukan polisi dan brimob. Hak kemerdekaan bagi suatu bangsa, yang di atur dalam UUD 1945, di pertanyakan?.

sebelum kami long mars, ketua amp pusat di seret, dan kemudian kami semua (23 anggota AMP), pada pukul 10; 16 wj. Pada pukul 10;31 wj, kami tiba di Kantor Polda Metro dan pada pukul 10:47 wj kami di interogasi.

Daftar nama-nama yang di tangkap saat aksi.

1. Bernado boma 2 bob senawatmen 3. Viky tebay 4 Jefry wenda. 5 Frans nawipa. 6 jhon gobay. 7 yosias iyadi. 8 adhen dimi. 9 jhon pekey. 10 frans dow. 11 mellii badii 12 natalius tekege. 13 ema dow. 14. Awida bobii. 15 hanna dow. 16 tina dow. 17 delvina alua. 18 zakeus edowai 19 eki gobay 20 ofmi t kafiar. 21 bendi agapa. 22 ay kosay. 23 albert pahabol.


Catatan:


1). 7 mobil dalmas dan blasan motor milik polisi.
2). Polisi gabungan brimob yang terlihat jumlahnya puluhan.
3). Alasan kepolisian membubarkan aksi AMP di istikma separatis, baca alasan polisi di kronologi diatas) (CheDG)

Foto-foto, Mahasiswa Papua Yang di Tahan di Metro Jaya Jakarta Pusat


















READ MORE -

Rayakan HUT KNPB Yang Ke VII, KNPB dan PRD Wilaya Nabire Gelar Ibada

Kamis, 19 November 2015



SBT_Nabire;_Komite Nasional Papua Barat KNPB Wilaya Nabire Hari ini 19/11/2015 mengadakan Doa dan Ibada Merayakan Hari Ulang Tahun HUT KNPB Yang Ke VII dan menytakan dukungan Terhadap Kegiatan yang sedang Berlansung di Solomon Islands pada hari ini 19/11/2015.

Dari pantauan media kami, Romario Yatipai Aktivis Papua Merdeka yang ikut hadir dalam Kegiatan memberikan memberikan atau menjelaskan Sejarah berdirinya KNPB dan sejarah berdirinya KNPB Wilaya Nabire. KNPB berdiri sebagai media Rakyat Papua, KNPB hadir hadir untuk media Rakyat Papua di seantero West Papua. Tegas Mario.

Lanjutnya, kecil, besar, sedikit, banyak, perlawanan terhadap pengisap, perakus, pemerkosa bumi papua yakni colonial, kapitalis, Tetap Jalan. KNPB bangkit, Rakyat Bangkit untuk kita lawan. Ajaknya.
Disamping itu Ketua KNPB Wilaya Nabire Anton Gobai  dengan tegas menyatakan, kami tidak akan pernah mundur, kami akan tetap digaris perlawanan bersama rakyat west papua. Lanjut Antong Ketua KNPB Wilaya Nabire, Kami mendukun semua kerja baik di luar negeri maupun dalam negeri.
Dalam jumpa Pres Yang dilakukan, Ketua KNPB Wilaya Nabire Mengajak Kepada Rakyat Papua, Rakyat Papua Harus sadar dan bangkit bersama KNPB dan Lawan Penghancur yang sedang Melanda di West Papua. Tegasnya.

Dicela-cela Kegiatan Ketua Perlemend Rakyat Daerah PRD Wilaya Nabire Akulian Mote mengungkapkan, Kami Parlemen Rakyat Daerah PRD Nabire Mengucapkan selamat Ulang Tahun Kepada Komite Nasional Papua Barat, dan pada hari ini juga kami menegaskan, KNPB Wilaya Nabire dan PDR Nabire tidak pernah bubar atau tidak akan pernah bubar, kami akan melakukan perlawanan Memediasi Rakyat Papua di Wilaya Nabire, hingga papua Merdeka. Lanjut.

Lebih tegas Ketua PRD Nabire mengungkapkan Kami PRD dan KNPB Wilaya Nabire Tidak Buabar, kami tetap di garis perlawanan, maka isu-isu yang berkembang di luar mengatakan bawah  PRD dan KNPB wilaya Nabire bubar itu omong kosong. Isu-isu itu dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sekali lagi kami tegaskan, PRD dan PNPB Wilaya Nabire masih ada dan akan terus media rakyat papua di wilaya nabire hingga tujuan kami tercapai yakni Papua Merdeka. Tegasnya. (Che DG)

Sumber : knpbnews

READ MORE -

Rentetan Situasi Nabire

Jumat, 30 Oktober 2015

LAPORAN RENTETAN SITUASI KOTA NABIRE, DAN PENGEJARAN, PEMUKULAN TERHADAP RAKYAT WEST PAPUA DI NABIRE

PADA TANGGAL 17 OKTOBER 2015

Pada hari saptu 17 oktober 2015, pada jam 03;00 seorang pemuda yang mengatakan tidak boleh menyebutkan namanya melaporkan. Kejadian yang sangat aneh yang dilakukan oleh militer Indonesia di nabire tepanya di kali harapan. 5 pemuda tampa alasan yang jelas di tangkap oleh Brimob dan di pukul dan di bawah ke porles nabire tampa alasan.

Pada jam yang sama, jam 03;00 sore, 2 pemuda Ricko dan Melpen yang sedang melintas di jalan kali bobo di tahan dan di pukul oleh polisi indonsia dan dibawah ke porles nabire tampa alasan yang jelas.

Pada jam 05;00 sore 1 pemuda di tahan di kali semen sp3, pemuda yang sedang mengendrai motor itu di jegat dan dipalang oleh polisi dan brimop menggunakan 2 track, setelah di hadang, pemuda tersebut dipukul dan lasung di bawah ke porles nabire.

Pada jam 06;55 beberapa orang papua yang sedang melintas di terminal oyehe di pukul oleh polisi dan brimop.

Seorang saksi yang rumanya berdekatan dengan terminal oyehe melalui Telefon melaporkan, “saat polisi dan brimop itu memukul dan mengeroyok beberap pemuda itu, lampu di padamkan dari PLN, di curigai bawah militer dan petugas PLN sedang bekerja sama untuk teruk membunuh orang papua di nabire.

Pada jam 08;00 malam seorang pemuda yang sedang menjaga keluarganya di rumah sakit umum sriwini melaporkan melalui telepon seluler “ sekitar 15 orang yang di tembak oleh militer Indonesia di bawah masuk dalam rumah sakit, dalam telefon seluler pemuda itu mengatakan Ruang Gawat Darurat UGD penuh dengan darah manusia dan ada tiga orang mati di tembak militer Indonesia 12 orang luka-luka berat dan sedang di rawat di rumah sakit umum sriwini nabire west papua..

PADA TANGGAL 18 OKTOBER 2015

Pada hari minggu tangal 18 oktober 2015 Jam 01;14 dua track biasa di parkir depan jalan masuk Yapis Nabire, taman ampere di kelilingi TNI dan PORLI. Yapis dalam depan gereja kimi dua motor berkeliling enta apa tidak tau, dua motor tersebut dengan bonjingan empat orang, empat orang tersebut berpakaian preman. Nomor ds track dan motor dilepas . track dan motor tersebut jalan tanpa nenggubakan nomor ds.

Jalan merdeka depan irian sentosa dua track dan 1 mobil ambulas berwarna hijau di parkir di jalan, di tempat itu penuh dengan TNI PORLI.

Depan gereja sion ambulas warna putih milik TNI di parkir bersama 1 Track Biasa penuh dengan Militer, ditempat yang sama ada empat orang rambut keriting rambut hitam yang berkerja untuk militer berdiri bersama dengan militer ditempat itu. Setelah melihat seorang lewat keempat pemuda membuang muka menyembunyikan muka mereka.

Disepangjang jalan dikelilingi dengan militer. Militer di nabire menggunakan mobil dan track biasa dan jalan mengelilingi nabire.

Kalo bobo depan uswin di kelilingi dengan dengan track milik TNI, Ratusan TNI berkeliaran dengan lengkap dengan alas an yang tidak jelas pada malam jam 11;00 malam.

Pada jam 12;00 Militer melanjarkan tembakan dari ujung kota hingga ujung dusung, bunyi tembakan yang di lancarkan militer di nabire pada malam hari itu sangat meresekan masyarakat di kota nabire. Penembakan yang di lancarkan itu berhakir pada jam 05;00 pagi. Pada pagi harinya dilaporkan ada 2 orang korban di kali susu nabire. Pagi itu juga jam 08;00 setiap mata jalan di nabire di penuhi oleh polisi dan brimop.

Kagiatan pada malam hari itu yang dilakukan oleh Tentara nasional Indonesia sangat mengganggu masyarakat di kota nabire dan meresekan masyarakat. Pada pagi harinya kota nabire terlihat sunyi, setiap masyarakat mengungsi jauh dari kota setelah dan mendengan apa yang terjadi pada malam hari itu.

Masyarakat merasa trauma dengan apa yang dilakukan oleh militer malam itu. Kebanyakan masyarakat pamit dan meningalkan kota nabire pada pagi harinya dan beberapa masyarakat bermalam di hutang dan jauh dari kota selama satu dan dua minggu.

Dibawah ini beberapa pertanyaan yang di lontarkan oleh masyarakat atas kejadian pada malam hari itu, di Nabire.

1. Kenapa sebelum melakukan penambakan yang sangat meresakan itu tidak di umumkan di masyarakat secara luas.
2. Kenapa TNI tidak melakukan sosialisasi sebelum melakukan penembakan dari jam 12o;00 malam sampai jam 05;00 pagi subu di media cetak maupun media elektronik.
3. Jika ada surat yang masuk ke kepolisian dari TNI kenapa tidak memberitahukan pada rakyat yang ada di nabire.
4. Jika memang betul TNI melakukan latihan perang, kenapa latihannya di gunakan di jantung kota yang penuh ramai dengan masyarakat dan di koplex masyarakat dan kenapa TNI melakukan latihannya pada malam hari.
5. Jika memang TNI melapor dan memberitahu kepada kepala suku akan melakukan Latihan TNI pada malam hari itu, kenapa Kepala suku tidak memberitahukan pada masyarakat atau bawahannya ke bawah.
6. Dan, TNI kenapa melakukan latihan pada malam hari saat masyarakat dalam keadaan isterahat.

Tanggal 25 Oktober 2015

Pada tanggal 25 oktober 2015, jam 10;00 malam 4 orang di kepung dan dikejar oleh polisi yang menggunakan mobil biasa berwarna merah dengan nomor DS 1975 Yang di pimpin lansung oleh pak Rein. Keempat orang yang sedang duduk di Taman Ampera Yapis itu di datangi dan kejar oleh 9 orang militer dengan berpakaian preman dan perlengkapan lengkap.
Ke empat pemuda dengan berinisitip tersebutl; Atiz Munipa (23), Hans Tekege (23), Arnol bobi (23), Lison Goo (23), yang sedang duduk depan Jalan besar, jalan masuk Yapis di kejar oleh militer yang dengan peraltan lengkap tampa alasan yang jelas.


Ini kronologinya,

Awalnya keempat pemuda itu sedang duduk manikmati gorengan dan air puti, mobil avansa berwarna merah lewat dan masuk kearah SMA yapis, dari ujung Taman Ampre itu mobil itu berhenti dan perhatikan mereka yang sedang duduk. Mobil itu setelah tiba di depan SMA Yapis mereka menurunkan 3 orang depan SMA setelah menurunkan 3 orang mobil itu balik dan berhenti depan taman ampere mereka menurunkan 1 orang yang bernama PAK SAIT. Depan kion depan taman ampera Dan mobil itu putar naik ke atas menuju arah Auri mobil itu berhenti lagi samping ampere dekat Jembatang yapis.

setelah mereka curiga dengan mobil yang lewat itu mereka berpisa dari keasikan mereka pada malam hari itu jam 10;00. Apalagi beberapa kejadian aneh itu sudah terjadi di nabire, hal itu membuat mereka harus berpisa.

Dari dalam mobil itu mereka mengeluarkana kata dengan nadah yang kasar “Wee Kamu bikin apa..?” dua orang yang menuju jalan masuk SMA yapis, ketika sudah di ujung SMA yapis itu kedua orang itu di tanyai oleh polisi yang berpakaian preman itu dengan nadah yang kasar “Ade kopu nama siapa” setelah mendengar itu mereka lansung lari menuju SMA Adhi Luhur, setelah mereka sudah lari Polisi lepaskan tembakan 3 kali. Di depan mereka ada satu orang yang menghalagi dan mencoba untuk menangkap mereka berdua yang sedang lari itu namun Polisi itu tidak berhasil menangkap kedua pemuda tersebut.


Mereka di kejar hingga depan SMP Antonius, di depan SMP Antonius ada mobil Hailux yang penuh dengan Brimop memegang peralatan lengkap. Dari depan perempatan keduanya berpisa, satu lari menuju kearah bawah satu arah atas, yang lari menuju kebawah di kejar oleh polisi satu dan dari belakan polisi tersebut mengeluarkan poluru 5 kali. Yang naik ke arah atas itu di kejar oleh polisi yang berpakaian preman itu menggunakan Motor yang Nomor DSnya telah di lepas. Setelah tiba di belakan Hotel Mahavira polisi yang mengejar mereka itu mengeluarkan peluru 3 kali. Setelah orang itu lompat pagar tembok polisi itu mengeluarkan sekitar 10 kali tembakan.

Sebelumnya pada siang hari jam 11;00 Polisi menangkap salah satu anak kecil yang sedang makan di depan Geezi Karang Mulia. Anak kecil tersebut di peralatkan untuk menunjut jalan bagi Polisi, kata seorang yang di kejar oleh polisi.


Tanggal 26 Oktober 2015

Pada tanggal 26 Oktober 2015, Jam 03;40 brimob dengan peralatan lengkap mengangkat motor rakyat papua di nabire tampa alasan yang jelas, ada beberapa tampat yang diangkat oleh brimob adalah SMK Auri, Depan Jalan Masuk Yapis dalam yapis, dan beberapa titik di nabire.



By Che DG
READ MORE -

Bendera Papua Barat dibesarkan di Balibo Tempat dieksekusi 5 Wartawan Australia oleh militer Indonesia di Timor Timur

Jumat, 16 Oktober 2015

SuaraBintangTimur-SBT:_Kemarin 16 oktober 2015 bendera Papua Barat dibesarkan di tempat di mana 5 wartawan Australia (Balibo 5) dieksekusi oleh militer Indonesia di Timor Timur 40 tahun yang lalu.

Bendera Australia berwarna merah di dinding dicat oleh wartawan yang dibunuh hanya beberapa hari sebelum mereka dibunuh.

Kami sangat berterima kasih kepada Francis Janssen dan semua pejalan kaki untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan untuk Papua Barat dalam mengingat 5 wartawan Australia yang dieksekusi dan ratusan ribu orang yang dibunuh oleh militer Indonesia di Timor Timur dan Papua Barat.

Bravo East Timor
Free West Papua..

By Melanesian Voice‎
READ MORE -

Meliput Demo Wartawan Ditodong dan Dicekik Polisi

Kamis, 08 Oktober 2015



SuaraBintangTimur_SBT:-Hendak meliput aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh Solidaritas Korban Pelanggaran (SKP) HAM Papua, salah satu wartawan tabloidjubi.com mendapat penganiayaan dari salah seorang anggota polisi yang hendak membubarkan massa demo tersebut.

Massa pendemo sendiri melakukan orasi di depan Kantor Pos Abepura, Kamis (8/10/2015). Selagi orasi, dua mobil truk milik Polres Jayapura datang dengan tiba-tiba dan langsung melakukan pembubaran dengan paksa tanpa ada negosiasi terlebih dahulu dengan para demonstran.


Pembubaran massa pendemo dipimpin langsung oleh Wakapolres Jayapura Kota, Komisaris Polisi (Kompol) Albertus Andreana. Abeth You wartawan tabloidjubi.com yang mendapatkan intimidasi menjelaskan awalnya dirinya melihat para mahasiswa dari Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur yang kebetulan merupakan massa aksi dipukul dan ditarik oleh aparat kepolisian maka dirinya dengan spontan mengambil kamera untuk mengabadikan momen tersebut.


Namun tiba-tiba salah satu anggota polisi datang menghampirinya dan mengambil kamera dari tangannya. “Saya sempat mengatakan bahwa saya adalah wartawan, namun tidak diindahkan oleh polisi tersebut. Dia langsung menghapus semua foto yang sempat saya ambil,” katanya kepada Jubi.
Abeth You menambahkan, dirinya juga sudah mengeluarkan kartu pers sebagai identitas diri bahwa dirinya adalah wartawan namun tidak diindahkan oleh aparat keamanan. “Wartawan-wartawan apa?,” kata polisi tersebut yang ditirukan oleh Abeth You. “Saya juga sempat dicekik dan ditodong dengan senjata serta disuruh naik ke dalam truk. Waktu kamera saya diambil, saya sempat bicara sama Wakapolres kenapa kamera saya diambil saya inikan wartawan namun tidak dihiraukan oleh Wakapolres,” ujar Abeth You.


“Setelah semua foto dihapus oleh anak buahnya baru Wakapolres datang ke saya dan meminta maaf atas perlakuan anak buahnya. Saya tidak terima maafnya. Yang mau saya tanyakan apa salah saya, sampai mau rampas semua atribut yang saya kenakan sebagai seorang jurnalis?” katanya.
Victor Mambor, salah satu pemegang sertifikat ahli pers Dewan Pers menyebutkan praktek seperti ini sering terjadi pada wartawan-wartawan asli Papua. Selama ini, kata Mambor, kalau wartawan asli Papua meliput demo, selalu dianggap sebagai pendemo dan diperlakukan dengan kasar, walaupun sudah menunjukkan kartu identitas kewartawanan mereka.
“Ini diskriminasi. Polisi adalah aparat penegak hukum. Tapi kok tidak tahu hukum?” tanyanya.


Lanjut Mambor, UU Pokok Pers Tahun 1999 pasal 4 ayat tiga jelas menyebutkan “Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi,”.
“Dan pasal 8 ayat 1 berbunyi : Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah),” tambah Mambor.


Menurutnya, polisi harus lebih profesional dalam menangani aksi demonstrasi massa. Jangan membubarkan seenak hati, menganiaya orang dan menangkap orang.


“Dalam kasus ini, polisi adalah pihak yang dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi praktek jurnalistik. Penegak hukum itu harus tahu hukum,” ulangnya lagi.
Ditempat terpisah, Wakapolres Jayapura Kota Kompol Albertus Andreana dihadapan massa pendemo yang melakukan pertemuan di ruang pertemuan Polsek Abepura mengataka bahwa apa yang dilakukan pihaknya adalah masalah miskomunikasi. “Ini hanya masalah miskomunikasi, memang ada surat masuk tetapi tidak menyertakan jumlah massa yang turun ada berapa.


Saya secara pribadi meminta maaf kepada pihak pendemo atas apa yang telah terjadi. Sebagai polisi, kami akan melakukan pembenahan kedalam atas kasus ini,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut Olga Hamadi dari KontraS Papua mengatakan bahwa apa yang dilakukan massa pendemo tidak anarkis. “Seharusnya ada yang namanya negosiasi antara pihak aparat keamanan dengan massa pendemo. Bukan datang langsung main pukul, dan menahan orang dengan sembarangan. Massa tidak melakukan aksi anarkis, malah pihak kepolisian-lah melakukan tindakan anarkis. Untuk itu, saya minta kepada pihak kepolsian untuk merubah sikap dan intropeksi diri agar hal ini jangan sampai terulang lagi,” katanya dalam pertemuan tersebut.(Degoo)


READ MORE -

Ternyata Ruang Demokrasi di Papua Masih Tertutup

 
Mengapa hingga saat ini ruang demokrasi diatas tanah Papua masih saja dibungkam?
Ada apa?
Pemerintah indonesia melalui aparat begitu berhati-hati dalam menangani berbagai aksi-aksi yang digelar oleh berbagai elemen masyarakat yang ada di Papua.

Padahal dimasa kepemimpinan Joko Widodo ini, sangat diharapkan dengan adanya keterbukaan.
Tak lagi perlu untuk membatasi rakyat dalam menyampaikan aspirasi selama apa yang disampaikan dengan cara-cara damai.
Ternyata harapan pada presiden indonesia itu memang dan mungkin saja sia-sia. Aparat sangat berkuasa untuk membubarkan, bahkan menangkap para aktivis.
Inikah indonesia yang berbhineka tunggal ika? berbeda-beda tapi tetap satu.
Ternyata tetap satu itu adalah memaksakan kami untuk tetap mengikuti apa yang tidak seharusnya kami ikuti.
Bagaimana kami akan bangga jika, cara perlakuan yang kami dapatkan terus seperti ini dari waktu ke waktu?

Tadi siang aksi yang digelar terkait dengan kasus penembakan yang terjadi di Paniai dan Timika, kembali aksi tersebut dibubarkan, massa aksi diamankan.

Silahkan baca berita dari link dibawah ini dan saksi mata dilapangan:

1. Polisi Bubarkan Aksi Demo Damai SKP-HAM Secara Brutal 
2. Polisi Dinilai Belum Memahami Arti Hukum
3. Sejumlah Biarawan Katolik Peduli HAM Ditangkap Polisi di Abepura
4. Liput Demo, Polisi Rampas Kamera Wartawan dan Menghapus Seluruh Foto
5. Ini Nama-Nama Aktivis HAM dan Para Frater Yang Ditangkap Polisi


 ---------------------------------------------------------
POLISI BUBARKAN PAKSA AKSI SKP HAM DI ABEPURA

Ketika orasi masih berlangsung di depan ruko yg berhadapan dengan Gereja Katolik Gembala Baik, Abepura (Jayapura), saya berdiri sambil memotret di belakang massa aksi yang tergabung dalam Solidaritas Korban Pelanggaran (SKP) HAM Papua. Masa aksi ini memegang serangkaian spanduk dan poster.
Tiba-tiba dari depan saya melihat sebuah truk Dalmas yg melaju kencang dari arah Kotaraja. Di dalam truk Dalmas yg melaju terburu-buru ini berisi anggota polisi dan brimob bersenjata lengkap. Truk Dalmas itu tiba-tiba menikung dan menuju masa aksi di barisan depan yg berdiri memegang spanduk dan sepertinya hendak menabrak mereka tiba-tiba. 

Melihat truk Dalmas Polisi yg melaju lalu berbelok ke arah mereka, masa aksi lalu bubar seketika utk menghindari tabrakan. Truk ini lalu berhenti seketika dan dari dalam para anggota polisi dan brimob yg bersenjata lengkap melompat turun. Para anggota polisi dan brimob lalu membubarkan paksa, menangkap dan meninju wajah beberapa aktivis yg tidak sempat menghindar. 

Melihat situasi yg sedang kacau (chaos), sy lalu mencari posisi yg tepat untuk memotret pembubaran paksa aksi damai ini. Namun beberapa polisi dan brimob yg kesal melihat sy memotret kejadian ini, berlari menuju saya. Sekitar 4 orang dari mereka menarik jaket dan baju sy dengan keras lalu menyeret sy dengan paksa ke tepi ruko.
Seorang intel berpakaian preman dari arah belakang tiba-tiba dtg memukul kepala sy dgn cukup keras dari belakang. Tidak hanya itu, para polisi juga berusaha merampas kamera dari gengaman tangan saya. Mereka membentak sy dan memaksa agar sy harus segera menghapus beberapa photo ketika sy memotret mereka saat membubarkan masa aksi secara paksa. 

“Ehh ko stop photo-photo, ko wartawan mana? Ko cepat hapus photo-photo itu. Mana photo-photo tuh, cepat ko buka dan hapus sudah. Kalo ko tra mo hapus, tong akan kase hancur ko pu kamera dan tong pukul ko nanti,” begitulah kata-kata mereka membentak sy.
Beruntung, datang seorang teman wartawan Cenderawasih Pos yg saya kenal dari arah sudut ruko. Kawan wartawan ini lalu meneriaki dan memprotes para polisi dan anggota brimob yg tadi menyeret, memukul dan menahan sy di sisi ruko. Kawan wartawan ini juga mengatakan kepada polisi bahwa saya adalah wartawan dan tidak benar jika para polisi menghalang-halangi tugas wartawan ketika memotret dan meliput aksi semacam ini. 

Kami sempat bertengkar dan beradu argumentasi dengan mereka bebrapa saat sehingga para polisi dan anggota brimob ini lalu menyuruh saya mengeluarkan kartu pers dan mendesak sy segera meninggalkan lokasi kejadian. Karena kalau tidak mereka akan mengambil kamera saya dan menghancurkannya.
Ketika mereka melepas sy untuk pergi, saya lalu bergegas mencari posisi lain untuk mencoba memotret aksi pembubaran paksa ini lagi dari jarak yg agak jauh. Namun sialnya, seorang intel berpakaian preman datang dari arah samping lalu mendorong saya, menarik sy dan membentak sy agar segera pergi. Dia sempat mengatakan: “ko mo pergi ka tidak, kalo trada ko dapa pukul nanti...”

Saya kemudian bergegas meninggalkan lokasi kejadian dengan masih memegang kamera di tangan. Tapi sy tidak puas. Sy lalu berusaha menyelinap dibalik mobil-mobil yg terpakir di depan restaurant Kopitiam, sebuah usaha francise milik penguasaha Malaysia yg lokasinya tak jauh dari tempat kejadian.
Dari arah yg tdk terlalu jauh, saya sempat melihat sejumlah aktivis diseret paksa lalu dimasukan ke dalam truk Dalmas polisi. Saya tidak tahu para aktivis dan pegiat HaM yg ditangkap ini akan dibawa kemana nantinya. Polda. Polres, atau Polsek? Saya tidak tahu saat itu. Yang pasti, saat aksi dibubarkan paksa, sejumlah aktivis sempat ditinju mukanya, dipukuli, ditempeleng dan ditendang. Mereka diseret dan dilempar masuk ke dalam truk Dalmas polisi. 

Dapat diperkirakan, aksi Solidaritas Korban Pelanggaran (SKP) HAM Papua yg mengambil titik kumpul di depan ruko yg berada bersebelahan dengan Gereja Katolik Gembala Baik Abepura ini dibubarkan secara paksa oleh polisi sekitar pukul 15.02 WP. Aksi dimulai pukul 13.35 WP dan sempat berlangsung selama dua jam lebih yg diwarnai sejumlah orasi sebelum akhirnya dibubarkan paksa oleh polisi.
(Photo : Negosiasi polisi dan penanggung jawab aksi (sdr. Peneas Lokbere dan Yuliana Langowuyo, namun pihak polisi tetap ingin membubarkan paksa aksi sesuai perintah Kapolda Papua, Irjenpol. Drs. Paulus Waterpauw) Sumber: Paradisearudolphi
READ MORE -

PELAJAR DAN RAKYAT PAPUA DI NABIRE DOA DAN DISKUSI DUKUNG PIF

Minggu, 13 September 2015


hari ini jumat 11 september 2015 pelajar papua bersama rakyat di nabire melakukan doa dan diskusi mendukung pertemuan PIT di Png. Doa dan diskusi berlansung pada jam 04;00 sore sampai berhakir jam 07;00 wpb dipimpim oleh Jon Magai berjalab lanjar.

Aksi diskusi ini sebagai dukungan kami terhadap pertemua yang di lakukan pada bulan ini di PNG. Kata jomax. Kami juga mendesak kepada negera indonesia untuk membuka ruang bagi wartawan asing untuk masuk ke west papua. Kami mendesak untuk PIR segara melapor masalah kami ke dekonisai PBB.


Di tempat yang sama sekertaris AMP nabire Maikel Bukega mengatakan, sudah cukup kami berada dalam keluarga tiri sekaran waktu untuk kami berdiri sebagai warga yang merdeka di area melanesia Maka indonesia stop membungkam ruang demokrasi dam segera buka dan datangkan wartawan asing ke tanah papua.(degoo)






 
READ MORE -